Anak TKW Jadi Mahasiswa Berprestasi UGM, Raih Ratusan Penghargaan Selama Kuliah
Anak TKW Jadi Mahasiswa Berprestasi UGM, Raih Ratusan Penghargaan Selama Kuliah – YOGYAKARTA – Perjuangan tak mengenal batas. Keterbatasan ekonomi tidak menghalangi Deni Maulana untuk meraih mimpi. Anak buruh tani sekaligus anak Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Yordania ini berhasil menjadi Mahasiswa Berprestasi Utama di Universitas Gadjah Mada (UGM) . Selama mengemban ilmu di kampus, ia berhasil mengoleksi lebih dari 150 penghargaan di bidang akademik maupun non-akademik .
Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya UGM angkatan 2023 ini berasal dari Cianjur, Jawa Barat . Perjalanan hidup Deni penuh dengan perjuangan yang menguras emosi sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.
Perjuangan di Balik Keterbatasan
Deni tidak sempat mengenyam pendidikan taman kanak-kanak. Keluarganya tidak mampu membiayai sekolah pada masa itu. Sang ayah bekerja sebagai buruh tani serabutan. Sementara itu, sang ibu harus pergi ke Negeri Yordan untuk bekerja sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) semenjak Deni masih berusia enam tahun .
Cobaan hidup semakin berat. Sang ayah meninggal dunia ketika Deni masih slot gacor duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA). Kondisi itu sempat membuatnya khawatir tidak bisa melanjutkan pendidikan ke tingkat perguruan tinggi .
Meski kedua orang tuanya hanya lulusan sekolah dasar, Deni memiliki tekad kuat. “Saya ingin membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan alasan untuk menyerah,” ujar Deni, Sabtu (9/5/2026) .
Salah satu pengorbanan yang paling membekas dalam ingatannya adalah ketika sang ibu dengan berat hati menjual cincin kesayangannya demi membiayai sekolah Deni. “Dari peristiwa itu saya belajar bahwa cinta seorang ibu tidak selalu berbentuk kata-kata, tetapi pengorbanan yang sering kali tidak terlihat,” kenang Deni .
Dari Prestasi Puisi Hingga ke UGM
Perjalanan Deni menuju UGM dimulai dari kecintaannya pada dunia sastra dan puisi. Sejak SMA, ia aktif mengikuti berbagai lomba bahasa dan sastra .
Puncaknya, ia berhasil meraih medali emas Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) cabang baca puisi tingkat nasional. Prestasi inilah yang menjadi “tiket emas” baginya untuk lolos ke UGM melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) .
“Saya lolos di UGM melalui jalur SNBP. Salah satu yang membawa saya masuk UGM adalah karena saya menjadi peraih medali emas FLS2N Baca Puisi tingkat Nasional,” tuturnya .
Kini, Deni juga tercatat sebagai penerima Beasiswa Indonesia Maju (BIM). Beasiswa ini membiayai kuliahnya hingga selesai .
Mengukir Prestasi di Kampus hingga Internasional
Selama berkuliah di UGM, Deni tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia aktif mengikuti berbagai kompetisi, organisasi, kegiatan sosial, hingga menjadi mentor beasiswa bagi pelajar .
Tak hanya itu, ia juga mendirikan kelas bimbingan puisi bernama Puisi Akademia. Langkah ini untuk membantu generasi muda mengembangkan kemampuan sastra .
Hingga saat ini, Deni telah mengoleksi lebih dari 150 penghargaan selama menjadi mahasiswa UGM . Beberapa prestasi internasional yang berhasil diraihnya antara lain Winner International Korean Poetry Reading Contest di Korea Selatan tahun 2025 dan Grand Prize Award South Korea Global Start-Up Idea Competition 2025 .
Kesuksesan ini membawanya dinobatkan sebagai Mahasiswa Berprestasi Utama UGM 2026 .
“Doa Ibu Adalah Kunci Utama Saya”
Di tengah gemerlap prestasi, Deni tidak pernah lupa dengan sosok di balik semua keberhasilannya: sang ibu.
“Bagi saya, ibu adalah segalanya, prioritas utama dalam hidup saya. Jika sbobet ada yang bertanya apa kunci saya bisa sampai di titik ini, bahkan menjadi Mahasiswa Berprestasi Utama UGM, maka jawaban saya sederhana, doa ibu,” katanya dengan penuh haru .
Setelah bertahun-tahun berpisah karena pekerjaan sang ibu di luar negeri, Deni memutuskan untuk menyatukan kembali keluarga kecilnya. Dari dana beasiswa yang ia terima, ia menyewa sebuah kontrakan sederhana di Yogyakarta. Ia pun mengajak sang ibu tinggal bersamanya agar tidak terpisah lagi .
Pesan untuk Generasi Muda
Deni mengaku sempat mengalami perundungan dan diremehkan karena berasal dari keluarga sederhana . Namun, ia memilih membalas semua itu dengan prestasi.
“Saya pernah mendapatkan bullying, tapi saya ingin membuktikan dan membalasnya dengan prestasi,” tegasnya .
Ia berpesan kepada mahasiswa dan pelajar lain agar tidak minder dengan latar belakang keluarga. “Mimpi tidak pernah melihat dari mana seseorang berasal. Selama mau berusaha dan tidak menyerah, semua orang punya kesempatan yang sama,” ujarnya .
“Mimpi tidak pernah salah. Yang salah hanya jika kita menyerah sebelum mencobanya,” pungkas Deni .
Kisah Deni Maulana menjadi bukti nyata bahwa anak buruh tani dan TKW pun bisa bersaing serta bersinar di kampus terbaik Indonesia.
