Hari Bumi Sedunia, Ini Deretan Brand Fashion Lokal yang Ramah Lingkungan
Jakarta – Ditengah krisis iklim globalisasi dan tuntutan akan keberlanjutan dalam berbagai lini kehidupan, pelaku industri mode-pun ikut melakukan refleksi dan transformasi.
Tanpa terkecuali di Indonesia. Tanah yang kaya akan wisata, kerajinan tangan, dan kreativitas lokal.
Baca Juga: Jember Fashion Carnaval 2026 Dibuka dengan Penampilan Parade Satwa
Dalam maxbet rangka Hari Bumi yang jatuh pada 22 April 2025, mari rayakan lima jehana lokal yang tidak sekedar
menawarkan pakaian atau aksesori estetis, tapi juga inovasi yang athena168 meminimalkan dampak negatif fashion terhadap lingkkungan (limbah mode termasuk salah satu penyumbang polusi terbesar di dunia).
1. Sejauh Mata Memandang
Berawal dari kecintaannya pada wastra Nusantara. Chitra Subyakito menghadirkan Sejauh Mata
Memandang (SMM) pada 2014. Dalam perjalanannya sembari mengangkat siluet busana masional dalam desain kekinian.
SMM berkembang sebagai medium pusat untuk menyuarakan isu lingkungan dengan mengusung circular fashion show fashion.
2. Adrie Basuki
Dikenal lewat pendekatan desain sbobet88 kontemporernya yang puttis, feminim, dan menyatu dengan nilai-nilai
keberlanjutan. Pemenang pertama Lomba Perancang Mode (LPM), 2021 aktif mengekspor material daur ulang serta limbah tekstil dalam menciptakan siluett yang lembut dan berkarakter.
3. Pijak Bumi
Adalah jawaban bagi pencinta fashion yang ingin tetap bergaya tanpa meninggalkan jejak nova88 karbon besar. Brand sepatu asal Bandung ini menggunakan material alam seperti serat eceng gondok.
4. Aroma Creative
Aroma Creative membawa nafas baru bagi tradisional lewat pendekatan upcying dan regenerasi peerajin.
Di bawah arahan Yuliana Fitri. Jenama ini tak hanya fokus pada estetika, tetapi juga ekosistem kreatif berkelanjutan.
5. KaIND
Bermula dari sebuah blusukan dadakan di kampung halamannya. Melie Indarto termotivasi untuk membantu
perajin batik dan tenun. Pada 2015, lahirlah KaIND, sebuah inisiatif yang tak cuma melestarikan keindahan wisata Jawa.
Melie Indarto, sang pendiri, memberdayakan petani di kampung halamannya, Pasuruan,
Jawa Timur, untuk menciptakan benang sutra sendiri. Proses produksinya mengutamakan pewarna alami, penghematan air, serta fair labor pratice (peace silk)
